Sabtu, 11 Maret 2017

Contoh Proposal Usaha

PROPOSAL USAHA
PENDIRIAN DAN PENGEMBANGAN
KELOMPOK USAHA TERNAK

 












USAHA TERNAK DOMBA JAYA
Desa Jetis
Pubalingga, Jawa Tengah



KATA PENGANTAR
Peternakan merupakan suatu usaha yang dilakukan atau diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup bagi peternak. Masyarakat desa yang hanya berpendidikan redah tentunya tidak memiliki keahlian lain untuk dapat diandalkan di era globalisasi ini. Masyarakat hanya mampu mengandalkan alam untuk dapat bertahan hidup di era globalisasi.
Masyarakat hanya mempunyai kemampuan untuk bertani dan berternak, sisanya adalah kemampuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman atau berkat warisan turun temurun dari orang tua terdahulu. Dijaman yang seperti sekarang, masyarakat desa masih lebih banyak mendapatkan keuntungan dari alam, dibandingkan dengan hidup di kota dengan biaya hidup yang sangat mahal. Untuk makan sayur, masyarakat desa masih dapat menanamnya sendiri, begitupun dengan konsumsi protein seperti daging misalnya. Masyarakat desa seharusnya mampu membuat peluang yang lebih besar dibandingakan dengan masyarakat kota.
Proposal ini di susun untuk membuat peluang itu semakin nyata ataupun membuat peluang tesebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dengan proposal ini di harapkan para petinggi pemerintahan dapat membantu peluang itu untuk di dapatkan, demi terciptanya masyarakat desa yang mandiri dan bertaraf hidup yang baik atau layak.


                                                                                    Purbalingga, 11 Maret 2017

                                                                                                Penyusun


       I.            PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
Peternakan merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk tujuan medapatkan hasil yang di inginkan. Peternakan merupakan usaha yang dapat dikembangkan menjadi sebuah kegiatan yang dapat menguntungakan bagi banyak orang apabila masyarakat dapat mendorong atau bekerjasama dengan tujuan yang ditentukan bersama.
Peternakan merupakan salah satu mata penceharian ataupun sumber penghasilan bagi beberapa orang ataupun banyak orang, yang umumnya bertempat tinggal di desa. Selain masyarakat desa megandalkan kegiatan pertanian untuk mendapatkan penghasilan, merekan juga pada umumnya mengandalkan kegiatan beternak untuk menambah pengasilannya. Beternak bukan lagi hal yang asing untuk masyarakat desa khususnya desa Jetis.
Kambing atau domba merupakan hewan ternak yang paling diminati ataupun hewan ternak yang paling banyak pelihara oleh masyarakat desa, walaupun masih banyak hewan ternak lain yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Kambing atau domba dipilih karena perawatannya tidak susah ataupun biaya perawatannya tidak mahal, tidak seperti hewan ternak lain seperti sapi, kuda, kerbau, dan lainnya. Sapi, kuda ataupun kerbau memerlukan perawatan yang boleh dikatakan tidak mudah, biaya perawatannya juga mahal.
Kambing atau domba memiliki banyak kelebihan di bandingkan dengan hewan ternak lain. Bagi masyarakat desa memelihara kambing akan lebih meguntukan daripada memelihara hewan lain seperti sapi misalnya. Untuk modal memelihara kambing atau domba lebih sedikit ataupun lebih ringan, tidak seperti memelihara sapi yang membutuhkan modal yang sangat besar. Walaupun dengan memelihara sapi hasil penjualannya jauh lebih besar dari pada hasil penjualan kambing.
Namun kendati demikian, kalau berfikir secara rasional dimana kemampuan rata-rata masyarakat desa yang tidak seberapa. Memelihara kambing akan jauh lebih menguntungkan, karena biaya perawatan yang murah, tenagga yang dikeluarkan untuk memeliharanya seperti pengadaan pakan kambing lebih ringan sehingga masyarakat masih mempunyai waktu untuk melakukan kegiatannya yang lain , cepat dalam reproduksi (tidak perlu menunggu teralu lama untuk dapat beranak kembali), tidak mebutuhkan banyak tempat (hanya membutuhka lahan yang tidak terlalu lebar), lebih banyak dicari (tidak hanya pada saat hari besar saja), proses penjualan yang cepat sehingga peternak juga dapat menerima hasilnya dengan kurun waktu yang tidak terlalu lama.


    II.            PEMBAHASAN
1.      Manfaat kegiatan usaha
a)      Manfaat ekonomi
Kelompok usaha ternak kambing atau domba ini akan sangat menjanjikan atau pun akan sangat memberi dampak yang baik untuk masyarakat. Kelompok usaha ternak ini memberikan atau menawarkan keuntungan bagi setiap anggotanya, dan juga dengan kelompok usaha ternak ini diharapkan akan membantu untuk peningkatan taraf hidup atau pertumbuhan ekonomi bagi setiap anggotanya. Kegiatan ini selain bermanfaat dalam bidang ekonomi juga sangat bermafaat untuk membuat atau membantu anggotanya agar dapat menerima dan mengemban tanggung jawab. Kelompok usaha ternak ini akan membawa dampak yang sangat baik bagi lingkungan sekitar dan diharapkan mampu untuk dapat menggerakan pemikiran masyarakat akan pentingnya membuat sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang.
b)      Manfaat social
Kelompok usaha ternak ini selain akan memberikan manfaat bagi para anggotanya, juga akan memberikan menfaat bagi masyarakat sekitar. Tujuan dari pembentukan ataupun tujuan dari didirikannya usaha ternak ini bukan semata-mata hanya untuk mensejahterakan anggota, melainkan untuk dapat menggerakan seluruh anggota masyarakatnya. Bagi masyarakat yang bukan merupakan anggota awal dari didirikannya kelompok usaha ternak ini, akan mendapatkan keuntungan yang sama seperti anggota kelompok usaha ternak yang lain. Karena kelompok ini nantinya akan memberikan hasil dari pembudidayaan secara bertahap kepada masyarakat, agar semua anggota masyarakat dapat merasakan dampak dari adanya kelompok usaha ternak ini. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kelompok kegiatan usaha ternak kambing atau domba merupakan langkah yang sangat luar biasa untuk dapat menggerakan perekonomian masyarakat khususnya desa Jetis.

2.      Profil Kelompok usaha ternak
Nama Usaha    : Domba Jaya
Jenis Usaha      : Peterakan kambing atau domba
Alamat             : Desa Jetis. Kec. Kemangkon, Purbalingga.
Anggota           :


·          Rochman Abdulloh
·          Agung
·          Nurul Badri
·          Turatno
·          Suparno
·          Mistar
·          Ngatin
·          Yono
·          Yoto
·         Mono



3.      Visi, misi, dan tujuan kelompok usaha ternak
a.       Visi
Menciptakan sebuah kelompok usaha yang dapat menggerakan ekonomi anggota dan masyarakat.
b.      Misi
ü  Memberikan dampak yang baik terahadap perekonomian masyarakat.
ü  Memberikan wawasan baru bagi para anggotanya.
c.       Tujuan
ü  Menambah pengalaman dalam mendirikan suatu kelompok usaha dan dalam bermasyarakat.
ü  Menggerakan masyarakat untuk mengembangkan semangat dalam usaha demi meningkatkan taraf hidup.
ü  Meberikan manfaat yang baik bagi seluruh masyarakat desa.
ü  Mewujudkan perekonomian yang mandiri bagi seluruh anggota dan masyarakat.

B.     Analisis SWOT
Adapun analisis SWOT bagi kelompok usaha ternak Domba Jaya sebagai berikut :
1.      Factor internal
Ø  Strengths (kekuatan)
Kelompok usaha ternak ini masih belum banyak yang membentuk ataupun mendirikannya. Walaupun di desa lainnya mungkin ada, namun dasar pemikiran atau cara kerja yang ada di dalamnya mungkin belum ada yang memilikinya, karena apabila perencanaan yang berada di dalamnya dapat terlaksana dengan baik, maka kelompok usaha ternak ini akan dapat atau mampu menggerakan perekonomian masyarakat, bukan hanya meggerakan ekonomi anggotanya.
Ø  Weakness (kelemahan)
Kelemahan internal kelompok usaha ternak ini adalah ketika ada seorang  anggotannya sudah mulai bosan ataupun mesara bahwa hasil yang dihasilkan kurang atau harus memekan waktu yang lama. Hal tersebut mungkin akan menyebabkan ada salah satu anggota kelompok yang keluar. Oleh sebab itu, harus ada kesepakatan atau perjanjian yang dilaukan kepada anggota kelompok bahwa anggota di izikan untuk dapat keluar dari kelompok ternak setelah dapat memberikan hasil kepada orang lain minimal dua periode atau dalam kurun waktu tertentu.
2.      Factor eksternal
Ø  Opportunities (peluang/kesempatan)
Melihat repon yang baik dari masyarakat yang sudah mengetahui tujuan maupun rencana kedepan dari didirikannya kelompok usaha ternak ini, kesempatan untuk dapat mencapai tujuan usaha semakin besar karena mendapat dukungan dari masyarakat maupun anggota kelompok usaha ternak Domba Jaya. 
Ø  Threats (ancaman)
Melihat dari masalah yang sebelumnya sudah di bahas, ancaman paling utama yaitu berasal dari masyarakat itu sendiri, bukan tidak mungkin dalam pelaksanaanya akan terjadi kecemburuan sosial. Untuk dapat mengatasi ancaman itu, maka yang dapat dilakukan adalah membuat agar masyarakat mempercayai rencana ataupun tujuan dari kelompok usaha ternak ini. Anggota kelompok harus mampu meunjukan kepada masyrakat bagaimana usaha itu dapat berjalan sesuai rencana dan yang paling penting adalah harus dapat menunjukan hasil atau capaian kepada masyarakat agar kelompok usaha ternak Domba Jaya dapat di percaya oleh masyarakat dan yang pasti harus mendapat dukungan dari masyarakat maupun aparatur desa Jetis.
C.     Rencana usaha ternak Domba Jaya
Adapun rencana kedepan yang akan dijalankan oleh usaha ternak Domba Jaya :
1.      Rencana jangka pendek
Usaha ternak Domba Jaya didirikan bertujuan untuk membuat  anggotanya dapat saling bekerjasama dalam kelompok usaha ternak, yang diharapkan dapat membuat anggotanya merasakan hasil dari kelompok usaha ternak Domba Jaya ini. Selain untuk dapat merasakan hasil dari kelompok ternak ini, diharapkan juga angggota dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik. Dengan kata lain kelompok usaha ternak ini juga merupakan sarana pelatihan tentang tanggung jawab anggota.
2.      Rencan jangka menengah
Usaha ternak Domba Jaya pastinya akan dikembangkan demi menciptakan tercapainya masyarakat yang mandiri dan juga demi tercapainya tujuan bersama. Kelompok usaha ternak Domba Jaya ini diharapkan akan selalu berpihak kepada masyarakat luas khususnya masyarakat desa Jetis, sehingga mampu mengangkat masyaraktatnya kepada status ekonomi yang diharapakan dapat meningkat dan menuju kearah yang jauh lebih baik.
3.      Rencana jangka panjang
Setelah berhasil dalam usaha ternak Domba Jaya ini, dalam artian semua anggota dan masyarakat merasakan dampak yang baik dari didirikannya kelompok usaha ternak ini.  Kelompok usaha ternak juga akan mengembangkannya ke dalam skala kelompok yang lebih besar lagi. Dapat juga mendirikan seperti koperasi peternakan domba, sehingga anggota kelompok akan lebih dimudahkan dalam segala hal yang berkaitan dengan usaha ternak domba ini. Kelompok usaha ternak Domba Jaya juga akan senantiasa memperbaiki jaringan atau membangun relasi yang lebih baik lagi kepada semua orang yang terlibat dalam pengembangan kelompok usaha ternak Domba Jaya.
D.     Analisis pemasaran hasil ternak
Adapun analisis strategi pemasaran atau penjualan hasil ternak domba dari kelompok usaha ternak Domba Jaya, yaitu sebagai berikut :

Ø  Masyarakat
Pemasaran atau penjulan yang dilakukan kepada masyarakat secara langsung tanpa melalui perantara. Pemasaran ini biasaya dilakukan kepada masyarakat atau orang yang sedang membutuhkan hewan kambing untuk dijadikan atau untuk kebutuhan acara-acara khusus seperti akikah atau acara yang lainnya.
Ø  Juragan
Metode ini sudah sangat umum dilakukan peternak desa untuk menjual hewan ternaknya yaitu kepada juragan. Penjualan ini biasanya terjadi apabila peternak sedang membutuhkan dana atau uang untuk kbuuhan yang mendesak namun tidak ada orang yang sedang mencari atau membutuhkan hewan kambing untuk suatu keperluan. Mejual kepada juragan akan lebih mudah karena juragan akan selalu membeli apabila ada peternak yang ingin mejual hewan ternaknya. Dengan demikian kegiatan perekonomian tidak hanya berputar diantara para peternak saja, melainkan ada pihak lain juga yang diuntungkan.
Ø  Mejual secara langsung ke pasar hewan
Mejual secara langsung ke pasar hewan, apabila dilihat dari masalah harga akan sedikit lebih tinggi di bandingkan dengan mejualnya kepada juragan. Namun yang perlu diperhatikan adalah apabila peternak menjualnya langsung ke pasar, peternak mungkin akan mengalami sedikit kesulitan dalam menjual kambingnya, karena di pasar terdapat banyak sekali jenis, kualitas, dan juga harga yang sangat beragam. Juga dipasar terdapat banyak sekali juragan kambing, alih-alih ingin mendapatkan keuntungan yang sedikit lebih besar, peternak malah biasanya akan medapat harga yang lebih rendah dan akhirnya terpaksa menjual kambingnya karena merasa apabila tidak menjualya saat itu juga dia mengalami rugi waktu dan tenagga.

E.      Modal awal
Dalam mendirikan sebuah usaha tentunya memerlukan modal, dapat modal itu berbentuk uang ataupun berupa modal barang. Modal awal pendirian kelompok usaha ternak ini tentunya yaitu hewan ternak berupa kambing atau domba. Domba yang dipelihara adalah domba betina, agar cepat beranak atau berkembang biak. Kelompok usaha ternak ini merupakan kelompok usaha yang tujuannya memelihara dan mengembangbiakan kambing atau domba, sehingga modal awalnya adalah berupa kambing betina bukan kambing pejantan. Kambing pejantan biasanya di kembangkan oleh kelompok-kelompok pembesaran hewan ternak, bukan kelompok pengembangbiakan. Domba betiana yang digunakan harus merupakan domba yang berkualitas tinggi atau super.

Adapun perhitungan modal awal sebagai berikut :
Domba betina                          : Rp. 2.000.000/ekor
Jumlah anggota kelompok       :  10 orang anggota awal
Total modal awal                     : Rp. 20.000.000

F.      Metode pelaksanaan program kelompok usaha ternak
1.      Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan untuk menganalisis kendala ataupun keuntungan apa saja yang dapat terjadi dan diperoleh dalam kelompok usaha ternak Domba Jaya ini. Anggota kelompok, masyarakat, dan peran aparatur desa untuk dapat mengontrol berjalannya kelompok usaha ternak ini akan sangat membantu dan akan sangat bermanfaat untuk kelompok usaha ternak Domba Jaya kedepannya.
2.      Survey modal
Survey modal dalam hal ini modal berupa hewan ternak kambing atau domba dilakukan agar perencanaan dan perhitungan yang dilakukan sesuai dengan apa yang berada di lapangan. Karena tanpa adanya survey yang dilakukan, maka akan membuat perencanaa dan perhitungan kedepannya menjadi susah ataupun kurang lancar.
3.      Sosialisasi kepada anggota
Sosialisasi berupa penyampaian tujuan dan apa saja manfaat yang dapat diperoleh dari kelompok usaha ternak Domba Jaya, yang diharapkan akan dapat membuka pikiran atau wawasan masyarakat menjadi lebih terbuka akan hal-hal yang sifatnya untuk kepentingan bersama.


4.      Pembagian hasil ternak
Kelompok usaha ternak Domba Jaya ini bukan hanya mengajak anggotanya untuk dapat mengingkatkan taraf hidupnya, melainkan untuk semua masyarakat yang ingin terlibat didalamnya. Setelah beberapa periode beranak atau berkembang biak, hasil ternak anak domba dari periode yang sudah di tentukan akan di kasihkan kepada masyarakat atau orang yang ingin memeliharanya atau ingin terlibat juga di dalam kelompok usaha ternak Domba Jaya. Pemberian itu dilakukan secara cuma cuma oleh anggota awal kelompok usaha ternak Domba Jaya. Setiap periode peranakan harus dilaporkan untuk tujuan pendataan.
5.      Penjualan hasil ternak
Penjualan dilakukan secara mandiri oleh anggota, artinya semua anggota bebas memilih metode penjualan dengan cara apapun tanpa campur tangan anggota lain. Apabila ada anggota yang kesulitan untuk menjual hasil ternaknya, maka anggota lain harus membantunya dengan ketentuan anggota yang kesulitan menjual hasil ternak meminta bantuan kepada anggota lain.


 III.            PENUTUP
Demikianlah proposal usaha ini kami buat. Semoga proposal ini dapat diterima dan dapat bermanfaat bagi kita semua. Tidak lupa kami mengucap syukur kepada Allah S.W.T karena atas segala Rahmat dan Hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan proposal kelompok usaha ternak ini, dan tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam pembuatan proposal ini.
Semoga proposal ini dapat diterima oleh semua pihak, karena proposal ini merupakan tahap awal kami dalam memulai usaha ternak domba ini. Dengan selesainya proposal usaha ini, kami berharap dapat segera mewujudkan usaha yang telah kami rencanakan ini.



Purbalingga, 11 Maret 2017
         Ketua Usaha                                                              Kepala Desa Jetis


ROCHMAN ABDULLOH                                           CAHYANI DWI HARGANI










Kamis, 09 Maret 2017

Koperasi Pertanian di Jepang. Zen-Noh koperasi nomor satu di Dunia

PENGERTIAN KOPERASI
Koperasi adalah merupakan singkatan dari kata ko / co dan operasi / operation. Koperasi adalah suatu kumpulan orang-orang untuk bekerja sama demi kesejahteraan bersama. Berdasarkan undang-undang nomor 12 tahun 1967, koperasi indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial dan beranggotakan orang-orang, badan-badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

SEJARAH KOPERASI DUNIA
Gerakan koperasi digagas oleh Robert Owen (1771–1858), yang menerapkannya pertama kali pada usaha pemintalan kapas di New Lanark, Skotlandia. Gerakan koperasi ini dikembangkan lebih lanjut oleh William King (1786–1865) – dengan mendirikan toko koperasi di Brighton, Inggris. Pada 1 Mei 1828, King menerbitkan publikasi bulanan yang bernama The Cooperator, yang berisi berbagai gagasan dan saran-saran praktis tentang mengelola toko dengan menggunakan prinsip koperasi. Koperasi akhirnya berkembang di negara-negara lainnya. Di Jerman, juga berdiri koperasi yang menggunakan prinsip-prinsip yang sama dengan koperasi buatan Inggris. Koperasi-koperasi di Inggris didirikan oleh Charles Foirer, Raffeinsen, dan Schulze Delitch. Di Perancis, Louis Blanc mendirikan koperasi produksi yang mengutamakan kualitas barang. Di Denmark Pastor Christiansone mendirikan koperasi pertanian.

KOPERASI PERTANIAN DI JEPANG
Koperasi pertama di Negeri Sakura dilahirkan pada 1897, tetapi baru pada 1920-an gerakan koperasi-koperasi mulai mengorganisir dengan skala yang lebih besar. Bersamaan dengan pelaksanaan Undang-Undang Industri dan Kerajinan. Dalam perkembangannya, koperasi di Jepang berkembang tidak hanya di bidang industri dan kerajinan, tetapi di sektor pertanian juga mengalami perkembangan yang pesat di awal-awal pertumbuhannya. Ada dua macam koperasi pertanian di Jepang. Pertama adalah yang bersifat khusus, hanya mengembangkan satu macam komoditas. Dan kedua adalah bersifat umum, yaitu yang bersifat serba usaha.
kelahiran Koperasi di Jepang mulai muncul ketika perekonomian uang mulai dikenal oleh masyarakat pedalaman. Gerakan Koperasi pertanian mengalami kemajuan yang sangat pesat sejak tahun 1930-an, khususnya ketika penduduk Jepanng menghadapi krisis ekonomi yang melanda dunia dalam periode 1933. Di Jepang ada dua bentuk Koperasi pertania. Yang pertama disebut Koperasi Pertanian Umum. Koperasi ini bekerja atas dasar serba usaha, misalnya menyelenggarakan usaha pemasaran hasil pertanian, menyediakan kredit untuk usaha perasuransian, pemberian bimbingan dan penyuluhan pertanian bagi usaha tani. Bentuk Koperasi yang lain disebut Koperasi Khusus. Koperasi ini hanya menyelenggarakan satu jenis usaha seperti Koperasi buah, Koperasi daging ternak, Koperasi bunga-bungaan dan sebagainya. Pada umumnya Koperasi- koperasi pertanian di Jepang menyelenggarakan bentuk usaha Koperasi yang pertama. Perlu ditambahakan, Koperasi-koperasi yang menyelenggarakan kegiatan serba usaha juga tergabung dalam sebuah Koperasi Induk yang bernama Gabungan Perkumpulan Koperasi Pertanian Nasional (Zenkoku Nogyo Kyodokumiai Chuokai). Titik berat kegiatan Koperasi Gabungan atau ZEN-Noh ini adalah penyaluran sarana produksi dan pemasaran hasil pertanian.

Zen Noh Cooperative
Zen Noh Cooperative adalah koperasi yang bergerak disektor pertanian (koperasi produsen), koperasi menyediakan semua kebutuhan anggota untuk mengelola pertaniannya baik dari penyediaan pupuk, alat-alat pertanian, maupun benih-benih pertanian padi, dan lainnya. Serta memasarkan hasil pertaniannya oleh koperasi ke 10 negara anggota Koperasi Zen Noh.     Manajemen yang dilakukan secara professional dan disiplin yang sangat tinggi. Zen Noh Jepang merupakan koperasi terbesar dari 300 koperasi yang diranking ICA. Dengan basis pertanian, jejaring Zen Noh telah merambah ke berbagai bisnis, yang menjangkau banyak negara. Padahal, koperasi ini baru dibentuk pada 1972, jauh lebih muda ketimbang koperasi-koperasi raksasa di Eropa dan Amerika Serikat. Zen Noh berdiri pada 30 Maret 1972, hasil penggabungan dua sekunder koperasi pertanian level nasional, yaitu Zenkoren (yang ber­gerak dalam pengadaan kebutuhan pertanian) dan Zenhanren (bergerak di bidang pemasaran pro­duk pertanian). Kedua sekunder ko­perasi ini berdiri pada 1948.
Secara keseluruhan, Zen Noh menghimpun 1.173 koperasi pertanian, 1.010 di antaranya merupakan primer koperasi pertanian. Sisanya merupakan sekunder koperasi pertanian tingkat provinsi, federasi kope­rasi lain yang terkait dengan bidang pertanian dan peternakan. Hampir semua kebutuh­an petani Jepang, dipenuhi melalui koperasi (umumnya disebut JA atau Nohkyo). Mulai dari penga­daan berbagai peralatan dan input pertanian, permodalan, sampai pe­masaran produk pertanian. Bahkan, kebutuhan barang sehari-hari pun, diperoleh lewat koperasi.
Zen-Noh sebagai Induk Koperasi Pertanian Jepang yang berdiri pada 1972, tugas utamanya adalah untuk menyediakan barang-barang kebutuhan petani anggota koperasi pertanian, baik untuk proses produksi seperti mesin-mesin pertanian, bahan baku minyak atau gas serta barang-barang konsumsi. Selain itu, Zen-Noh juga memasarkan produksi anggota. Berbagai kegiatan dalam rangka pelayanan kepada anggota/ petani ini dilakukan melalui produksi sendiri, kerjasama dengan pabrik lokal, maupun melalui impor dan ekspor. Dari kegiatan usaha ini, Zen-Noh pada 2005 dapat mengumpulkan volume usaha (turn over) sebesar USD 63.448.881.360, yang menempatkannya pada peringkat satu versi Global 300 ICA. Dalam rangka tanggungjawab sosial, Zen-Noh terutama sangat memperhatikan produk makanan, khususnya beras yang berasal dari bibit yang 100% murni, kemudian pada lingkungan, antara lain dengan adanya keharusan/ anjuran menggunakan pupuk kandang oleh para anggota/ petani.
Zen-Noh adalah Induk Koperasi Pertanian Jepang (National Federation of Agricultural Cooperative Association) merupakan koperasi terbesar di dunia. Beranggotakan 10 koperasi pertanian tingkat skunder/ provinsi (Prefectural Economic/ Cooperative Federation) ditambah 43 koperasi skunder khusus dan 66 koperasi bermacam jenis. Zen-Noh juga beranggotakan 1010 koperasi pertanian tingkat primer (Multipurposes cooperatives) yang pada saat ini mempunyai anggota perorangan sebanyak 4.444.800 orang dengan karyawan sebanyak 12.557 orang. Selain itu, masih ada 44 koperasi yang berstatus sebagai associate members.

Telaah kritis mengenai koperasi pertanian Jepang
            Kopereasi di Jepang mempunyai sejarah yang panjang. Koperasi peretanian di Jepang dapat menjadi koperasi yang sangat maju terutama karena petani Jepang itu sendiri. Para petani di Jepang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh dan sangat solid. Petani di Jepang sangat luarbiasa dalam mengembangkan koperasi, petani Jepang membuat jaringan bisnis yang jangkauannya sangat tidak main main. Semua petani Jepang terhimpun dalam koperasi yang soliditas dari para anggotanya tidak dapat diragukan lagi. Anggota kopersi pertanian Jepang rata-rata adalah perempuan, hampir disetiap daerah di Jepang  mempunyai koperasi pertanian. Peran emerintah dalam koperasi pertanian sangat besar pengaruhnya. Pemerintah Jepang sangat menghargai para petaninya. Tidak seperti dinagara negara berkembang yang hanya focus terhadap bidang industry saja, pmemrintah Jepang justru menganggap bidang pertanian juga sangat penting dalam menyuplai kebutuhan pangan Negara. Bahkan saking pemerintah Jepang menghargai para petaninya, kebijakan baru yang menyangkut sector pertanian pemerintah menanyakannya langsung kepada petaninya apakah nantinya kebijakan tersebut dapat mensejahterakan para petaninya atau malah justru akan merugikan para petaninya. Pemerintah juga tidak boleh mengimpor komoditi pertania lain tanpa persetujuan petaninya.
            Koperasi pertanian diJepang sangatlah baik untuk dapat dicontoh dinegra Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Bukan hanya kegiatan atau system perkoperasia tersebut saja, namun juga peran pemerintah didalamnya seharusnya dapat di contoh oleh pemerintah kita, pemerintah yang sangat menghargai petaninya dan juga sangat mendukung bidang pertanian. Pemerintah Jepang sangat menghargai petani mereka, tebukti dengan pemerintah membuat kebijakan yang sangat luarbiasa yang bisa membuat sector pertanian dan sector industry tidak memiliki gap atau jarak yang jauh. Pendapatan warga sipi yang bekerja di sector industry dan sector pertanian dapat dikatakan seimbang. Tidak seperti di Indonesia antara sector pertanian dan sector industy mempunyai gap atau jarak yang boleh dikatakan sangat jauh berbeda. Bahkan sector pertanian Indonesia dapat dikatakan bahkan mengalami penurunan, karena merasa tidak di perhatiakan nasibnya oleh pemerintah sehingga para petani beralih professi ataupun menjual lahan pertaniannya kepada kontraktor untuk dijadikan perumahan misalnya.

Factor pendorong koperasi di Jepang antara lain :
1.      Solidaritas antar anggota ataupun kerja sama antar koperasi pertanian yang ada di Jepang sangatlah beperan penting dalam mendorong koperasi pertanian. Dengan adanya ikatan solidaritas yang sangat kuat inilah koperasi pertanian yang ada di Jepang sangatlah maju, karena solidaritas ataupun tekad dari petani itu sendiri yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi dapat berkembang dengan baik.
2.      Skala usaha ataupun skala kegiatan perkoperasian. Dengan skala usaha yang luas mersa serta terpaadu, menyebabkan koperasi sangat mudah berkembang di Jepang. Mempunyai relasi ataupun hubungan dengan koperasi lain dapat mendorong kopersi untuk cepat berkembang.
3.      Adanya dukungan ataupun perhatian dari pemerintah akan sektor pertanian inilah yang sangat membatu ataupun juga salah satu alasan mengapa kopersi pertanian di Jepang menjsdi koperasi terbaik di dunia. Pemerintah sangat memperhatikan sector pertanian karena sector pertanian sangat penting dalam ekonomi suatu Negara. Sebisa mungkin pemerintah tidak melakukan umpor pangan karena untuk melindungi petani mereka, juga Karen petani mereka sudah dapat memenuhi kebutuhan pangan Negara.
4.      Produk pertanian yang berkialitas dan sangat mampu untuk bersaing dengan produk dari Negara lain juga merupakan alasan mengapa koperasi pertanian di Jepang dapat menjadi kohperasi tebaik di dunia. Dengan produk yang berkualitas nilah yang yang dapat mendorong cepatnya perkembangan koperasi di Jepang.

Factor penghambat koperasi pertanian Jepang antara lain :
1.      Persaingan dengan Negara lain, pada tahun 1993 Jepang dipaksa untuk membua keran impor melalui Kese­pakatan Umum tentang Tarif dan Perdagangan (GATT). Berdasarkan kesepakatan itu, mulai 1995 Jepang membuka impor beras, mes­kipun dibatasi hanya 4 persen dari kebutuhan beras dalam negeri. Memasuki tahun 2000, batasan itu diberbesar menjadi 4,8 persen.
2.      Harga komoditi yang tinggi membuat hasil pertanian Jepang susah bersaing pada awalnya, pembatasan kuota impor juga dalam jangka panjang dapat menyebabkan keteragntungan yang dapat berakibst fatal.






SUMBER

http://alexandercharliethings.blogspot.co.id/2011/10/sejarah-koperasi-dunia-dan-indonesia.html






























Rabu, 08 Maret 2017

Pengertian Market Failure- faktor penyabab-cara mengatasi



TUGAS MATA KULIAH
EKONOMI SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN


Hasil gambar untuk LOGOUNSOED




Disusun oleh :
Agung Setia Budi (C1A015079)


ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKETO
2017







Pengetian Market Failure
Market failure adalah suatu istilah yang digunakan dalam ilmu ekonomi untuk menjelaskan suatu kondisi dimana barang dan jasa yang disediakan oleh pasar tidak mampu dialokasikan secara efisien. Salahudin dalam artikel yang diberi judul “Sebuah Potret Market Failure” menyebutkan bahwa dalam teori ekonomi dinyatakan bahwa salah satu faktor naiknya harga barang adalah karena tidak sebandingnya jumlah permintaan dan penawaran. Jumlah permintaan lebih banyak, sementara, suplainya terbatas. Akan tetapi, ada juga berlaku rumus bahwa kenaikan harga tersebut terjadi karena tidak terdistribusinya secara efisien barang/jasa ke konsumen. Masih menurut kacamata ekonomi, situasi seperti ini disebut market failure, yaitu ketika tidak terorganisasikan dan teralokasikan barang dan jasa ke tangan konsumen secara efisien.Sejumlah contoh klasik dari kondisi market failure antara lain: barang publik, eksternalitas (termasuk pencemaran dan kerusakan lingkungan), informasi yang tidak simetris, biaya transaksi, kepastian institusional serta masalah dalam distribusi. Masalah utama dari market failure adalah efisiensi. Masalah efisiensi ini tentu berkaitan erat dengan permasalahan modal.

Market Failur dapat terjadi karena adanya faktor-faktor dibawah ini, yaitu :
1.      Adanya Common goods (Barang Bersama)
2.      Adanya unsur ketidaksempurnaan pasar
3.      Adanya barang publik
4.      Adanya eksternalitas
5.      Adanya pasar tidak lengkap
6.      Adanya kegagalan informasi

Menurut Krugman dalam Wikipedia.com, menyebutkan bahwa ada tiga hal penyebab dari Market Failure, yaitu:
Pertama satu atau beberapa orang dalam pasar mampu mengambil kekuatan pasar yang memungkinkan mereka untuk memblokir transaksi lain. Ini dapat menghasilkan inefesiensi, persaingan tak sempurna, yang dapat menhasilkan bentuk pasar seperti monopoli, monopsoni, kartel, atau persaingan monopolistik jika pasar tidak menerapkan perbedaan harga yang sempurna.
Kedua terjadi karena adanya faktor eksternalitas, yaitu sebuah efek yang diciptakan dari pihak luar yang berpengaruh ‘secara halus’.
 Ketiga market failure dapat terjadi karena faktor alamiah, atau terjadi karena perubahan alami pasar. Pada umumnya kesemuanya dapat menghasilkan sebuah situasi yang tidak efesien dalam pasar dan akhirnya terjadilah sebuah market failure.

Cara mengatasi Market Failur
Undang-undang – Memberlakukan undang-undang khusus. Misalnya, melarang merokok di restoran,Penyediaan langsung jasa dan barang untuk publik – pemerintah mengendalikan persediaan barang yang memiliki eksternalitas positif. Misalnya, dengan menyediakan jumlah pendidikan tinggi, taman, atau perpustakaan.
Perpajakan – menempatkan pajak atas barang-barang tertentu untuk mencegah penggunaan dan menginternalisasi biaya eksternal. Misalnya, menempatkan pajak tertentu pada produk tembakau, dan kemudian meningkatkan biaya konsumsi tembakau.
Subsidi – mengurangi harga barang yang didasarkan pada kepentingan publik yang diperoleh. Misalnya, menurunkan biaya kuliah karena manfaat masyarakat dari pekerja yang berpendidikan lebih tinggi. Subsidi yang paling tepat untuk mendorong perilaku yang memiliki eksternalitas positif.
Izin perdagangan – izin yang memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk menghasilkan sejumlah sesuatu, polusi umumnya. Perusahaan dapat melakukan perdagangan izin dengan perusahaan lain untuk menambah atau mengurangi apa yang bisa mereka hasilkan. Ini adalah upaya untuk mengurangi polusi.
Perpanjangan hak milik – menciptakan privatisasi untuk barang non-pribadi tertentu seperti danau, sungai, dan pantai yang dapat menciptakan pasar. Kemudian, orang bisa didenda karena mencemari daerah tertentu.
Iklan – mendorong atau menghambat konsumsi.
Kerjasama internasional antara pemerintah – pemerintah bekerja sama dalam isu-isu yang mempengaruhi masa depan lingkungan.













DAFTAR PUSTAKA